Transparent Sexy Pink Heart RAKHMAT STW

Rabu, 11 Maret 2015

Teknik Pembuatan Medium Kultur/rakhmat stw/unib/mikrobiologi



LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

Logo Universitas Bengkulu
                                                                                          

Nama                               : RAHMAD SETIAWAN
 NPM                                         : E1J013062
Judul / Tgl Praktikum      : Teknik Pembuatan Medium Kultur /
26 Maret 2014
Nama Pembimbing                    :  Ir.Hartal,MP
Nama Pelatih ( Coass)     : Redi Agustri



LABORATORIUM ILMU HAMA PENYAKIT TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Suatu makluk organisme mikro tentu memiliki suatu standar lingkungan hidup yang memungkinkan organisme tersebut untuk tetap bisa mempertahankan keturunan atau spesiesnya masing-masing. Apabila suatu ekosistem dan habitat suatu organisme berubah maka organisme tersebut harus menyesuaikan diri, namun kemampunan suatu organisme tesebut menyesuaikan dengan lingkunganya cukup terbatas, sehingga jika suatu lingkungan berubah sangat ekstrim mungkin makluk tersebut akan mati atau bahkan punah.
Seiring berkembangnya penemuan para ilmuan membuat suatu medium atau habitat buatan yang memungkinkan organisme tersebut untuk tetap tumbuh dan mempertahankan hidupnya. Cara-cara yang sering di gunakan dalam membuat kultur untuk pengembangan organisme mikro biasanya dengan membuat keadaan yang hampir mendekati habitat aslinya. Selain itu dalam medium kultur buatan seluruh keperluan tumbuh bagi organisme mikro telah disuplai sesuai kebutuhan organisme tersebut sehingga suatu organisme yang di biakan dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal tanpa harus kekurangan unsur perkembangan.
Secara umum ada dua medium kultur yang seing di gunakan dalam pengembangan mikro organisme, yaitu medium nutrient.agar dan medium potato dextrose agar. Pembuatan medium biasanya dilakukan dengan mengektraksi seluruh bahan dan nutrien yang diperlukan organisme dengan air, kemudian di saring dan di sesuaikan tingkat basa atau keasamannya. Mikro organisme yang dikembangkan dengan medium kultur buatan tidak semua dapat tumbuh walaupun mediumnya sudah mendekati habitat aslinya karena beberapa mikro organisme memang tidak bisa di kembang biakan dalam medium buatan.


1.2.Tujuan  
1.      Mahasiswa dapat membedakan resep beberapa medium yang berbeda
2.      Mahasiswa mampu menyediakan dan membuat medium berdasarkan resep yang ada
3.      Mahasiswa mampu melestarikan medium sehingga medium kultur siap pakai



BAB II
DASAR TEORI

Media kultur merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan organisme kultur .  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis organisme yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari perbanyakan organisme yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Suryowinoto, 1991).
Dalam medium kultur, unsur-unsur diberikan tidak dalam bentuk unsure murni, tetapi berupa senyawa berbentuk garam. Sebelum dicampurkan kedalam media tumbuh, garam-garam mineral itu haruslah lebih dahulul dilarutkan dalam konsentrasi tertentu, sehingga dalam media tumbuh nantinya jumlah tiap gram benar sesuai dengan ketentuan sebagai pelarut dipakai akuades (Yuwono, 2008).
Mempelajari pertumbuhan bakteri merupakan factor terpenting dalam menegetahui beberaa spek fisiologis. Hal itu karena karateristik pertumbuhan mencerminkan kejadian fisiologis suatu bakteri. Oleh karena itu dalam melakukan penelitian biasanya para peneliti melakukan manipulasi pertumbuhan (misalnya menggunakan kutur yang lama) untuk dapat mempelajari suatuaspek fisiologis (Tortora. 1992)
Pertumbuhan tidak selalu berhubungan dengan pembelahan. Banyak spesies bakteri bentuk batang, disebabkan oleh karena banyak factor–factor ekstrogen, gagal mengandakan pembelahan, walaupun pembelahan inti, petumbuhan dinding, membrane, dan isi sel terus berlangsung. Hasilnya ialah bukan penambahan jumloah sel, tetapi terbentuk filament yang panjang dan tidak tersekat. Pertumbuhan diartikan penamabhan dan dapat dihubungkan dengan penamabahan ukuran, jumolah bobot, massa dan banyak parameter lainnya dari suatu bantuk hidup. Penambahan ukuran atau massa suatu sel individual biasanya terjadi pada pendewasaan (maturasi) untuk kemudian dilanjutkan dengan cara pembelahan sel (Lay, et al. 1992)
Berdasarkan komposisi kimianya , dikenal medium sintetik dan medium non sintetik atau kompleks. Komposisi kimia medium sintetik diketahui dengan pasti dan biasanya dibuat dari bahan-bahan kimia yang kemurniaanya tinggi dan ditentukan daengan tepat. Maka medium semacam itu dapat diulangi pembuatanya  kapan saja dan akan diperoleh hasi yang sama. Dipihak lain, komposisi kimiawi medium non sintetik tidak diketahui dengan pasti. Contohnya ialah bahan–bahan yang terdapat dalam kaldu nutrient, yaitu ekstrak daging dan npepton yang terdapat komposisinya kimiawi yang tidak pasti (Dwijoseputro. 1986)
Fase dalam pertumbuhan bakteri telah dikenal luas oleh ahli mikrobiologi. Terdapat 4 fase pertumbuhan bakteri ketika ditumbuhkan pada kultur curah (bacth cuylture) yaitu fase adaptasi (log phase) fase pembayangan (exponential phase) fase statis (stationer phase) dan fase kematian (death phase) (Stanier. 1982)
Penanaman pada lempeng agar–agar berlainan dengan sel–sel dalam pembenihan cair, sel–sel pada atau dalam pembenihan padat tidak dapat bergerak. Karena itu bila beberapa sel ditaruh pada atau dalam pembenihan padat, tiap sel akan tumbuh dan membentuk koloni yang terpisah. Zat ideal itu kebanyakan pembenihan padat ialah agar–agar, suatu polisakarida asam yang diekstraksi dari ganggang merah tertentu (Pelczar, Michael. 1996)






















BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
 Alat
1 gelas piala, 1000 ml. Pemanas, 1 batang pengaduk, sebilah pisau, kain saring, sebuah corong, timbangan, 2 buah elemeyer 250 ml, 6 buah tabung reaksi, 1 buah gelas piala 100 ml, sebuah pipet.
Bahan
Kentang 100 g, dextrose 10 g, tepung agar 10 g, aquades 500 ml.
3.2  Prosedur Kerja

1.      Mengupas dan mencuci kentang lalu memotong berukuran 0,5 cm3
2.      Menimbang potongan kentang seberat 100 g, kemudian merebus dengan air sebanyak 500 ml, sampai mendidih
3.      Memisahakan ekstrak kentang dengan mengunakan kain saring
4.      Memanaskan kembali ektrak, kemudian ditambah 10 g dextrose dan 10 agar-agar sambil mengaduknya
5.      Menambah air bila volume air kurang dari 500 ml, hingga volume tersebut menjadi 500 ml sambil terus mengaduk agar agar sampai agar agar benar benar tercampur
6.      Memasukan medium kedalam gelas elemeyer ukuran 100 ml atau tabung reaksi sebanyak 6 ml atau 2,5 ml kemudian menyumbat dengan kapas.
7.      Menyeterilkan medium selama 15 atau 20 menit
8.      Meletakan seluruh tabung reaksi yang berisi 5 ml dengan posisi miring pada bidang horizontal dan membiarkan hingga medium tersebut menjadi padat.
9.      Menyimpan medium dalam tempat penyimpanan yang di sediakan.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil
menimbang
ekstrak
Ektrak kembali
Memasukan medium
medium


4.2       Pembahasan
Praktikum acara tiga dengan judul Teknik Pembuatan Medium Kultur, praktikum ini terdapat empat medium yang di perkenalkan, yaitu medium potato dextrose agar, medium nutrien agar, medium plate count agar standar dan medium tauge sukrose agar. Namun di karenakan banyaknya bahan untuk mempraktekan semua jenis medium tersebut, maka kami hanya mempraktekan medium yang paling sering di gunakan dalam pembiakan mikro organisme dalam labolatorium mikrobiologi yaitu medium potato dextrose agar atau PDA.
Teknik pembuatan medium PDA sebenarnya tidak bgitu sulit namun butuh kecermatan dalam melakukan praktikum agar perbandingan bahan yang digunakan sesuai dengan resep yang telah di berikan oleh dosen pembimbing supaya ketika kita gunakan medium tersebut sebagai media pembiakan mikro organisme dapat maksimal hasilnya. Pertama kita mengupas bahan sumber karbohidrat yang kami gunakan yaitu kentang selanjutnya memotong dadu pada kentang dengan tujuan utama untuk memudahakan ektrak kentang keluar, sehingga kandungan karbohidratnya dapat maksimal dalam medium yang kita hasilkan. Setelah kentang kita ektrak dengan air sebanyak 500 ml selama ± 15 menit maka kita pisahkan kentang tersebut dari air ekstraknya dengan kain saring sehingga kita dapatkan sebauh hasil ektrak kentangnya. Kemudian kita panaskan kembali sambil memasukan dektrose dan bubuk agar kedalam ekstrak tersebut sambil mengaduknya ketika kita panasakan. Selanjutnya kiata harus memperhatikan dan menjaga volume medium yang kita buat supaya tetap 500 ml sesuai dengan volume pertama kita mengekstrak kentang, sehingga apabila terjadi penguranga volume akibat pemanasan dalam perebusan mengektrak kentang maka kita menambahakan kembali air hingga sampai volumenya 500 ml. Apabila agar dan ektrak kentang telah bercampur homogen maka kita masukan medium tersebut kedalam tabung elemeyer dengan volume 100 ml pada masing masing tabung elemeyer, pada tahap ini kita juga memasukan medium kedalam tabung reaksi, medium pada elemeyer kita sumbat mengunakan kapas sedangkan pada tabung reaksi kami mengunakan plastik yang kami ikat dengan karet. Selanjutnya kami letakan miring untuk medium yang berada dalam tabung reaksi, di tempat yang telah di sediakan sebelimnya. Tahap terakhir maka medium di simpan dalam tempat penyimpanan hingga medium tersebut di gunakan pada praktikum selanjutnya.















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum teknik pembuatan mdium kultur setelah melaksanakan praktikum kami mengetahui jenis-jenis medium kultur yang sering digunakan dalam proses pembiakan organisme mikro dalam laboratorium. Dari resep yang di berikan kami mengenal empat jenis medium kultur pembiakan organisme.
Pembuatan medium dilaksanakan dengan cara menyiapkan seluruh bahan sesuai dengan resep yang telah di berikan dengan ukuran perbandingan yang seperti yang telah di jelaskan oleh dosen pembimbing supaya ketika kita gunakan medium kita dapat mengembangkan  mikro organisme secara maksimal dan berhasil dengan baik.
Medium kultur yang sudah jadi harus kita jaga kesterilannya ketika kita akan mengunakan harus sesuai prosedur pengunaan supaya tidak ada mikro organisme atau bakteri dari kontak udara yang tumbuh dalam medium sebab jika terdapat mikro organisme dari udara tentu akan menganggu proses pembiakan yang kita lakukan.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk Praktikan diharapkan lebih teliti dan cermat dalam melakukan segala bentuk praktikum. Selain itu Praktikan diharapkan utuk belajar seputar percobaan sebelum melakukan percobaan ini. Yang terakhir Praktikan diharapkan agar selalu semangat dalam menghadapi kesulitan–kesulitan yang ada saat praktikum












DAFTAR PUSTAKA

Dwijoseputro. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Jakarta Diakses pada tanggal 31 maret 2014
Lay, et al. 1992. Mikrobiologi Dasar. Gramedia : Jakarta.
Pelczar, Michael. 1996. Dasar-Dasar. Mikrobiologi. Universitas Indonesia : Jakarta.
Stanier. 1982. Mikrobiologi Dasar. Erlangga : Jakarta.
Tortora. 1992. Biologi Sel. Angkasa Bandung : Bandung.
Suryowinoto, 1991.Kultur jaringan.http://mail.uns.ac.id/~subagiya/struktur Diakses pada tanggal 31 maret 2014
Yuwono T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Yogyakarta: UGM Press. Diakses pada tanggal 31 maret 2014

Pengenalan Bakteri/pewarnaan gram/rakhmat_stw/unib/mikrobiologi



LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

                                                                                          

Nama                                : RAHMAD SETIAWAN
 NPM                                : E1J013062
Judul / Tgl Praktikum       : Pengenalan Bakteri/14 Mei 2014
Nama Pembimbing            :  Ir.Hartal,MP
Nama Pelatih ( Coass)     : Redi Agustri



LABORATORIUM PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bakteri dalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Baktei pada umumnya cenderung tak berwarna, sehingga dalam pengamatan mememerlukan alat bantu. Bakteri dapat di amati melalui bantuan mikroskop cahaya.
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat berdiameter hingga 700 μm
Untuk mempermudah dalam suatu pengamatan terhadap bakteri biasanya di lakukan pewarnaan terhadap objek tersebut. Suatu pewarnaan dalam tubuh bakteri akan mempermudah indentifikasi terhadap bakteri tersebut. Pewarnaan terhadap bakteri biasa di bedakan berdasarkan objek pewarnaan. Suatu pewarnaan apabila objek pengamatan yang kita lakukan pewarnaan sering disebut pewarnaan positif. Pewarnaan positif bercirikan lingkungan bakteri akan tampak tranparan sedangkan bakteri akan berwarna biru ke ungguan atau merah. Pewarnaan yang kedua yaitu pewarnaan negatif . pewarnaan ini bercirikan lingkungan bakteri yang kita amati akan berwarna sedangkan bakteri yang kita amati akan tampak transparan.


1.2  Tujuan
a.       Mahasiswa mampu mengamati karakter bebeberapa koloni bakteri
b.      Mahasiswa mampu membedakan koloni bakteri dengan koloni bukan bakteri
c.       Mahasiswa dapat mengamati contoh contoh penataan bakteri
d.      Mahasiswa mampu membedakan beberapa penataan sel bakteri yang berbeda
e.       Mahasiswa mampu mengamati dan menyiapakan preparat pewarnaan bakteri untuk keperluan karakterisasi

BAB II
DASAR TEORI

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada di suspensikan. Salah satu cara unutk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah di identifikasi adalah dengan cara metode pengenceran atau pewarnaan. Hal tersebut berfungsi untuk mengetahuisifat fisiologisnya  yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecetan atau pewarnaan (Dwidjoseputro, 1998).
Pewarnaan gram adalah tekhnik pewarnaan diferensial yang paling banyak digunakan dalam bakteriologi, pewarnaan ini memisahkan bakteri menjadi 2 kelompok yaitu gram positif dan gram negatif. Larutan yang digunakan dalam pewarnaan ini ada 4 yaitu gram A, B, C dan D ( Harley, 2007 ).
Bakteri gram positif adalah jenis bakteri dengan dinding peptidoglikan yang tebal, sementara bakteri gram negatif adalah jenis bakteri dengan dinding peptidoglikan yang tipis. Perbedaan ketebalan dinding ini mengakibatkan perbedaan kemampuan aktifitas dengan pewarnaan gram (Savada, 2008).
            Pewarnaan negatif adalah pewarnaan yang tidak langsung mewarnai bakteri, melainkan mewarnai latar belakang preparat bakteri tersebut. Pewarnaan ini dilakukan menggunakan pewarnaan yang bersifat asam seperti nigrosin, tinta india atau eursin. Pewarna ini tidak akan menembus atau berikatan dengan dinding sel bakteri karena daya muatan negatif dinding sel bakteri. Pewarna akan membentuk deposit disekitar bakteri atau menghasilkan latar belakang hitam sehingga bakteri tampak tidak berwarna, sementara latar belakangnya berwarna gelap (Presscot, 2009).
Berdasarkan genetis, terkadang bakter diklasifikasikan berdasarkan pewarnannya, misalnya dengan pewarnaan gram, bakteri dibagi menjadi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Purvess, 2009).
Zat warna lawan adalah suatu zat warna basa yang berbeda warnanya dengan zat warna mula-mula yang digunakan. Gunanya adalah untuk memberikan warna pada sel-sel yang berbeda warnanya dengan zat warna mula-mula. Zat warna penutup diberikan pada akhir pewarnaan dengan tujuan untuk memberikan kontras pada sel-sel yang tidak menyerap zat warna utama (Sutedjo, 1991).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan
Pengenalan koloni bakteri
Bahan : Biakan bakteri, alkohol, aquades
Alat     : loup, mikroskop, ose, gelas obyek, gelas penutup, lampu spiritus

Penataan bakteri
Bahan : Biakan bakteri (Streptococcus, Staphylococcus, dll) dalam medium cair, laktofenol     biru, alkohol, aquades
Alat     : Ose, pipet tetes, gelas obyek, gelas penutup, lampu spiritus

Pewarnaan gram
Bahan : Biakan bakteri berumur 18-24 jam, pewarna A (crystal violet 2% + amonium oxylat 1%), penguat B (I 1% + Kl 2%),  peluntur C (etanol 70%), pewarna D (safranin 2,5% dalam alkohol), alkohol 90%
Alat  :gelas obyek, tabung reaksi, ose, pinset, stopwatch, botol semprot, lampu spiritus,    mikroskop

3.2  Prosedur Kerja
Pengenalan koloni bakteri
1.      Mengambarmasing-masing koloni bakteri yang tersedia
2.      Memberi keterangan gambar masing-masing koloni bakteri tentang : bentuk koloni, bentuk tepi koloni, struktur dalam, dan elevasi koloni
Penataan bakteri
1.      Membersihkan gelas obyek  dengan menggunakan alkohol 90% sampai bebas debu dan lemak
2.      Mengambil satu ose biakan bakteri dalam medium cair dan teteskan ke gelas obyek, kemudian tetesi laktofenol biru
3.      Menetesan biakan tanpa diratakan langsung ditutup dengan gelas penutup
4.      mengamati bagaimana penataan sel satu dengan sel lainnya


Pewarnaan gram
1.      Membuat suspensi biakan bakteri yang telah berumur 48 jam atau lebih dalam aquades steril
2.      Mengambil secara aseptik 1 ose suspensi bakteri dan meletakkan di atas gelas obyek kemudian meratakan menjadi ±1/2cm2
3.      Melakukan fiksasi supaya bakteri dapat lengket pada gelas obyek, dengan cara melewatkan beberapa kali di atas nyala lampu spiritus sampai suspensi benar-benar mengering tanpa mendidih
4.      Menetesi suspensi yang sudah kering dengan pewarna A (kristal violet) sebanyak 2 tetes dan didiamkan selama 1 menit
5.      Setelah 1 menit, pewarna A yang menggenang dibuang kemudian ditetesi dengan penguat Bnsebanyak 1 tetes dan diamkan selama 1 menit lagi
6.      Setelah 1 menit, membilas pewarna pada obyek gelas dengan menggunakan air yang disemprotkan dari botol semprot sampai aquades yang menetes menjadi jernih
7.      menetesi pewarna pada obyek gelas mengunakan peluntur C sebanyak 3 tetes kemudian didiamkan selama 10-20 detik dan segera dibilas dengan menggunakan air yang disemprotkan dari botol semprot sampai aquades yang menetes menjadi jernih
8.      meniriskan obyek gelas sampai kering angin kemudian ditetesi dengan pewarna D (safranin) sebanyak 2 tetes dan diamkan selama 1 menit
9.      Setelah 1 menit,membilas pewarna pada obyek gelas dengan menggunakan air yang disemprotkan dari botol semprot sampai aquades yang menetes menjadi jernih kemudian ditiriskan sampai kering angin, sehingga diperoleh preparat pewarnaan gram
10.  Mengamati preparat dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran sedang (10 x 40) dan pembesaran kuat (10 x 100). Bakteri gram positif akan berwarna ungu sedangkan bakteri gram negatif akan berwarna merah








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan
Pengenalan bakteri
Penataan bakteri
Pewarnaan gram
Bentuk  :cirticular
Tepi koloni rata
Struktur smooth
Elevasi low convex
Dua-dua berpasangan
Bentuk basil panjang
Warna sel adlah unggu sehingga bakteri tersebut termasuk dalam kelompok gram positif


4.2              Pembahasan

Berdasarkan data diatas bahwa pada pengamatan pengenalan bakteri praktikan mengamati empat ciri. Ciri-ciri bakteri yang pertama kami amati adalah dari segi bentuk. Hasil pengamatan bakteri E-Colly termasuk bakteri dengan bentuk cirticular. Ciri bakteri yang kami amati adalah dari segi tepi koloni pada bakteri. Hasil pengamatan tepi koloni pada bakteri adalah tergolong bakteri yang bertepi koloni rata. Pengamatan untuk pengenalan bakteri selanjutnya kami lihat dari segi struktur yang dimiliki oleh bakteri. Berdasarkan pengmatan yang kami lakukan di ketahui bahwa bakteri E-Colly memiliki struktur smooth, ketika kita amati struktur tersebut dari atas. Untuk lebih mengetahui bakteri, selanjutnya kami melakukan pengamatan dari segi elavasi pada bakteri objek pengamatan kami. Berdasarkan pengamtan yang kami lakukan bahwa elevasi pada bakteri ini cenderung tergolong dalam low convek. Pengamatan mengenai elevasi untuk mendapatkan hasil maksimal harus di amati dari samping sebab jika pengamatan dilakukan dari atas seperti pengamatan bentuk, tepi koloni dan struktur bakteri, maka elavasi tidak bisa terlihat jelas. Pengamatan terhadap elavasi dilakukan objek pengamatan sejajar dengan mata pengamat.
            Pengamatan pada penataan bakteri, cenderung berfokus pada bentuk bentuk bakteri dalam koloni tumbuh. Berdasarkan data penataan bakteri dapat dibedakan penataan tungal artinya tiap bakteri berdiri sendiri dalam koloni yang berjarak. penataan dua dua atau berpasangan yang berarti ada pasangan bakteri yang berdekatan baru berjarak. Penataaan berpasang tiga atau basil pendek artinya tiap bakteri bertata pasang tiga. Yang terakhir penataan basil panjang bakteri berpasangan lebih dari tiga. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan didapatkan data bahwa bakteri yang kami amati memilki penataan dua-dua atau berpasangan pada tiap-tiap koloninya.
            Pewarnaan gram pada praktikum ini dilakukan pewarnaan gram positif. Pewarnaan gram yang dilakukan adalah pewarnaan pada objek pengamatan atau bakteri. Pewarnaan pada objek pengamatan dilakukan agar dalam pross pengamatan kita lebih mudah mengamatinya. Suatu bakteri yang tidak dilakukan pewarnaan sebelum di amati, pada hasil pengamataan cenderung tranparan. Bakteri yang dilakukan pewarnaan sebelum di amati akan memiliki warna sesuai golongan gram bakteri tersebut. Pewarnaan terhadap bakteri dilakukan dengan bantuan zat warna kristal violet yang memberikan warna biru keungguan terhadap bakteri yang kita amati. Pewarna kedua yang biasa di gunakan adalah safranin yaitu zat warna yang memberikan warna merah pada bakteri yang kita amati. Suatu bakteri yang tergolong dalam bakteri gram positif dalam pewarnaan akan terwarnai oleh kristal violet, sehingga bakteri yang dalam kelompok gram positif pada pengamatan akan berwarna biru atau ke ungguan. Suatu bakteri yang tergolong dalam bakteri gram negatif dalam pewarnaan akan terwarnai oleh safranin, sehingga bakteri yang dalam kelompok gram negatif pada pengamatan akan berwarna merah. Berdasarkan percobaan yang di lakuakn bahwa hasil pewarnaan pada bakteri yang kami amati berwarna biru ke ungguan. Hal ini berarti bahwa bakteri yang kami amati termasuk dalam gram positif.
















BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan penagamatan yang dilakukan dalam praktikum ini bakteri dapat di bedakan berdasarkan karakter yang dimiliki. Karakter yang dimiliki bakteri dapat di amati dalam empat kriteria. Kriteria dalam pembedaan karakter bakteri terdiri atas bentuk bakteri, tepi pada koloni bakteri, struktur bakteri, dan elevasi bakteri.
            Koloni bakteri dapat kita bedakan berdasarkan bentuk bentuk tepi koloni. Data pengamatan yang di lakukan bahwa bakteri yang di amati memiliki tepi yang cenderung rata. Koloni bakteri juga dapat di bedakan berdasarkan bentuk koloni, struktur dalam berkoloni serta elevasi koloni bakteri.
            Praktikum pengenalan bakteri pada penataan bakteri praktikan mengamati contoh penataan dua-dua atau berpasangan. Hasil pengamatan bahwa objek pengamatan cenderung berjajar dua-dua lalu terpisah. Hal ini merupakan contoh penataan bakteri berpasangan.
            Penataan bakteri dapat kita bedakan menjadi penataan tunggal tak berpasangan, hal ini berarti pada bakteri cenderung terdapat jarak tiap-tiap bakteri. Penataan dua-dua atau berpasangan, penataan ini bakteri akan berhimpit dua-dua lalu terpisah jarak dengan pasangan lain.
            Pewarnaan pada bakteri secara umum dilakukan dengan bantuan pewarna kristal violet dan safranin. Apabila suatu bakteri dapat menahan atau menyerap pewarna pertama walaupun dilakukan pencucian maka bakteri tersebut akan berwarna unggu, dan tergolong dalam gram positif. Bakteri yang tak dapat menahan pewarnaan pertama, akan terwarnai oleh pewarna safranin, sehingga pada pengamatan akhir akan berwarna merah, dan tergolong dalam gram negatif.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk Praktikan diharapkan lebih teliti dan cermat dalam melakukan segala bentuk praktikum. Selain itu Praktikan diharapkan utuk belajar seputar percobaan sebelum melakukan percobaan ini. Yang terakhir Praktikan diharapkan agar selalu semangat dalam menghadapi kesulitan–kesulitan yang ada saat praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Harley. 2007. Pengertian Pewarnaan Gram. Gramedia. Jakarta.
Presscot. 2009. Pewarnaan negatif. UI Press. Jakarta.
Purvess. 2009. Klasifikasi Bakteri. UI Press. Jakarta.
Savada. 2008. Bakteri. Gramedia. Jakarta.
Sutedjo, M.1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta : Rhineka Cipta.