Transparent Sexy Pink Heart RAKHMAT STW

Sabtu, 11 Oktober 2014

pengenalan protista fungi/rakhmat stw/unib/mikrobiologi



LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

                                                                                          

Nama                               : RAHMAD SETIAWAN
 NPM                                         : E1J013062
Judul / Tgl Praktikum      : Pengenalan Protista dan Fungi/30 April 2014
Nama Pembimbing                    :  Ir.Hartal,MP
Nama Pelatih ( Coass)     : Redi Agustri



LABORATORIUM ILMU HAMA PENYAKIT TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Whittaker membagi mikroorganisme menjadi tiga kingdom yaitu protista, fungi, dan monera. Pembagian tersebut di dasarkan tata cara perolehan karbon dan organisasi sel pada masing masing  kingdom. Kelompok protista merupakan kelompok mikroorganisme eukariotik yang mendapatkan energi dengan dua cara, yaitu absorbsi dengan ingesti (holozoic) pada protozoa dan absorbsi dengan fotosintesis pada Alga.
Alga bersifat fotosintetik sehingga semua alga mengandung klorofil dan pigmen-pigmen lain. Kebanyakan alga hidup di air dan sebagian besar merupakan fitoplankton yang berguna sebagai sumber makanan organisme lain dan merupakan produsen primer bahan organik atau permula rantai makanan aquatik dan sumber oksigen. Banyak jenis alga terdapat sebagai sel tunggal (uniseluler) yang dapat berbentuk bola, batang, kumparan dan lainnya.
Protozoa merupakan makluk bersel tunggal yang mendapatkan energi dengan absorbsi. Diperkirakan ada 64.000 spesies protozoa, meskipunseparuhnya sudah berupa fosil. Protozoa yang hidup bebas diperkirakan ada 22.000 spesies dan yang hidup sebagai parasit ± 10.000 spesies. Ukuran dan bentuk protozoa sangat beragam. (purnomo,bambang.2008)
            Fungi merupakan organisme heterotrofik absorbtik yang memerlukan senyawa organik untuk sumber tenaganya. Fungi dapat hidup pada benda organik mati maupun organisme hidup. Mereka yang hidup dari bahan organik  mati disebut saprofit dan yang hidup pada organisme hidup disebut parasit.


1.2  Tujuan
Tujuan praktikum pengenalan Protista adalah :
a.       Mahasiswa dapat membedakan antara protozoa dengan algae berdasarkan beberapa karakter pembeda protista.
b.      Mahasiswa dapat membandingkan beberapa karakter penting dalam protista.
c.       Mahasiswa dapat membedakan kelompok protista mayoritas yang ditemukan dengan menggunakan cara pengamatan yang berbeda.
d.      Mahasiswa dapat membedakan antara fungi satu sel dengan fungi multi sel dari pengamatan koloni maupun pengamatan sel.


BAB II
DASAR TEORI

Protista merupakan sekelompok mahluk hidup heterogen, terdiri dari eukariota yang tidak termasuk hewan, tumbuhan, atau fungus. Mereka pernah dikelompokkan ke dalam satu kerajaan bernama Protista, namun sekarang tidak dipertahankan lagi. Penggunaannya masih digunakan untuk kepentingan kajian ekologi dan morfologi bagi semua organisme eukariotik bersel tunggal yang hidup secara mandiri atau, jika membentuk koloni, bersama-sama namun tidak menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan yang berbeda-beda. Dari sudut pandang taksonomi, pengelompokan ini ditinggalkan karena bersifat parafiletik.( Coyne, Mark S. 1999)
Protozoa adalah protista yang mirip dengan hewan. Pprotozoa hampir semuanya protista bersel satu, mampu bergerak yang makan dengan cara fagositosis, walaupun ada beberapa pengecualian. Mereka biasanya berukuran 0,01-0,5 mm sehingga secara umum terlalu kecil untuk dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop. Protoza dapat ditemukan di  mana-mana, seperti lingkungan berair dan tanah, umumnya mampu bertahan pada periode kering sebagai kista atau spora, dan termasuk beberapa parasit penting. Berdasarkan pergerakannya, protozoa dikelompokkan menjadi:
·         Flagellata yang bergerak dengan flagella(rambut cambuk). Contoh: Euglena
·         Amoeboida yang bergerak dengan pseudopodia (kaki semu/kaki akar) yaitu   yang berarti setiap kali ia akan bergerak harus membentuk kaki semu sebelum dapat bergerak dan pembentukan kaki ini dinamakan fase gel. Contoh: Amoeba
·         Cilliata yang bergerak dengan silia (rambut getar). Contoh: Paramaecium
·         Sporozoa yang tidak memiliki alat; beberapa mampu membentuk spora. Contoh: Toxoplasma (Pelczar, Michael J. 1999)
Algae merupakan eukariotik merupakan organisme yang mengandung satu tipe atau lebih klorofil ditambah pigmen-pigmen yang kita kenal sebagai karotenoid dan biloprotein. Dalam sistem 5 kingdom, alga bukan nama takson dan tidak masuk dalam kingdom plantae. Alga masuk dalam kingdom protista, karena mempunyai ciri-ciri tubuh tersusun dari satu atau banyak sel, yang tidak berdiferensiasi membentuk jaringan khusus (Jati, Wijaya, 2007).
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif(Anonim.2012).
Secara umumnya jamur dibagi menjadi 2 yaitu: khamir (Yeast) dan kapang (Mold). Khamir adalah fungi dengan bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan. Khamir mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil tidak sebesar bakteri yang terbesar.khamir sangat beragam ukurannya,berkisar antara 1-5 μm lebarnya dan panjangnya dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya berbentuk telur,tetapi beberapa ada yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk.Sel-sel individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ-organ penggerak lainnya  (Coyne, Mark S. 1999)
Kapang adalah funggi yang memiliki miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman).Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa.Setiap hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 μm.  Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama (Syamsuri 2004)

















BAB III
METODOLOGI

3.1 Bahan dan Alat

Acara Pengenalan Protista
Bahan : 1 L air rawa, 1 L air laut, 1 L air rendaman jerami, 1 L air kolam, 100 mL
              alkohol
Alat     : 2 buah gelas obyek cekung, 2 buah gelas penutup, 2 buah pipet karet

Acara Pengenalan Fungi
Bahan : 1 cawan biakan khamir, 100 mL aquades steril, 100 mL alkohol 70%, 100 mL metil
               biru 0,01%
Alat     : 1 buah jarum preparat, 2 buah tabung reaksi 15 cm, 2 buah gelas  obyek, 2 buah gelas penutup, 1 unit mikroskop optik, 1 buah lampu spiritus, 100 g kapas, 1 batang  gelas, 2 buah pipet tetes

3.2  Prosedur Kerja

Acara Pengenalan Protista
1.      Membersihkan gelas obyek cekung dengan menggunakan alkohol 90% sampai bebas debu dan lemak. Demikian juga pada gelas penutupnya.
2.      Meneteskan air rawa/laut/rendaman  jerami/kolam pada cekungan gelas obyek.
3.      Menutup tetesan air dengan gelas penutup dan menjaga agar tidak terbentuk gelembung udara di dalam cekungan gelas obyek.
4.      Mengamati preparat menggunakan mikroskop pada pembesaran lemah (10 x 10) dan sedang (10 x 40).
5.      Mengambar protista yang teramati dan memberi keterangan gambar tentang bentuk, warna, arah gerakan, struktur dalam sel, dan ciri-ciri lain termasuk karakteristiknya (karakter khasnya).
6.      Mengu langi prosedur mulai dari poin 1 sampai 5 untuk air yang lainnya.



Acara Pengenalan Fungi
1.      Mengamati biakan khamir dengan cara menggambar dan memberi keterangan tentang: bentuk koloni, warna koloni, dan karakter-karakter makroskopis lain dari biakan.
2.      Mencatat  semua karakter makroskopis, koloni diambil menggunakan ose secara aseptik kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi 10 mL aquades steril.
3.      Membersihkan gelas obyek dengan menggunakan alkohol 90% samapai bebas debu dan lemak. Demikian juga pada gelas penutupnya.
4.      menetes metil biru 0,01% di tengah-tengah gelas obyek.

























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1              Hasil Pengamatan

Air jerami
protozoa
Bergerak
Berbentuk bazil
Berwarna coklat
Air kolam
Algae
Tidak Bergerak
Berbentuk batang
Berwarna coklat
Air laut
Protozoa
Bergerak
Berbentuk melingkar
Berwarna coklat
Air rawa
Protozoa
Tidak Bergerak
Berbentuk seperti garis
Berwarna coklat
Jamur tempe

Berspora
Dan
berhifa
Protozoa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBD3jYFDnmA8WZXbdb4W8ngUmAwXOHT2Bch0h-iESn-uvIdRb_nrhwC246gtpjmumgvWdaWhutcGel81trnAjRd17hZsnUu16h1T77OPLmMQmkEAao4YfwPyx_9pzn1Yk7NcNpWu9OzUZp/s1600/protozoa+a.jpg
Algae
Fucus distichus di Olympic National Park
Jamur tempe
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMVVJsXFYLFCIQjEnhDS9iE9kEKSxWu1XAk9nFI4uSXV0dE_1kqbzX-l2w2P0K6pp5c3XMzEDT-aOOtv3SKXcZ1SmpuQym0IlAE2sSSA3qcjUG7nkZuQFgkiRvSH4TVh8ZWRN6dmeTqrdN/s1600/jamur+tempe2++cropround.jpeg












4.2 Pembahasan

Berdasarkan data yang di peroleh diatas bahwa pada percobaan ini praktikan dapat mengenal beberapa jenis protista dan fungi. Pengamatan mengenai protista di lakukan pada air jerami, air laut, air rawa, dan air kolam. Pada pengamatan fungi kami gunakan jamur pada tempe.
Pengamatan pertama kami lakukan pada air rendaman jerami dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 x 10. Hasil pengamatan kami dalam air rendaman jerami kami dapati protista dari kelompok protozoa, sebab Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar.  Protozoa yang hidup dalam lingkungan air  jerami yang kami amati berwarna coklat, dengan bentuk bazil. Protozoa dibagi menjadi dua yaitu prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen, memili membrane sel dari zat lipoprotein, dan bentuk tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang bercirikan sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Ada yang bisa berubah-ubah.  Berdasarkan pengamatan yang kami amati pada air jerami termasuk dalam protozoa sebagai hewan karena bergerak. Protozoa yang kami amati bergerak kesegala arah.
Pengamatan kedua kami lakukan pada air kolam dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 x 10. Hasil pengamatan kami dalam air kolam kami dapati protista dari kelompok algae, sebab alga/ganggang coklat ini umumnya tinggal di kolam, rawa,laut yang agak dingin dan sedang, terdampar dipantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar). Bila di laut yang iklimnya sedang dan dingin, talusnya dapat mencapai ukuran besar dan sangat berbeda bentuknya. Ada yang hidup sebagai epifit pada talus lain. Tapi ada juga yang hidup sebagai endofit. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan bahwa algae tidak bergerak,dan berbentuk cabang cabang, serta lembaran lembaran yang cukup banyak. Warna algae yang kami amati adalah coklat sehingga hal tersebut disebut algae coklat.
Pengamatan ketiga kami lakukan pada air laut dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 x 10. Hasil pengamatan kami dalam air laut kami dapati protista dari kelompok protozoa, sebab Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar.  Protozoa yang hidup dalam lingkungan air  laut yang kami amati berwarna coklat,dengan bentuk batang. Protozoa dibagi menjadi dua yaitu prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen, memili membrane sel dari zat lipoprotein, dan bentuk tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang bercirikan sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Ada yang bisa berubah-ubah.  Berdasarkan pengamatan yang kami amati pada air laut termasuk dalam protozoa sebagai tumbuhan karena tidak bergerak ketika kami amati dibawah mikroskop.
Pengamatan keempat kami lakukan pada air rawa dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 x 10. Hasil pengamatan kami dalam air rawa kami dapati protista dari kelompok protozoa lagi, sebab Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar.  Protozoa yang hidup dalam lingkungan air  laut yang kami amati berwarna coklat, dengan bentuk garis. Protozoa dibagi menjadi dua yaitu prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen, memili membrane sel dari zat lipoprotein, dan bentuk tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang bercirikan sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Ada yang bisa berubah-ubah.  Berdasarkan pengamatan yang kami amati pada air rawa termasuk dalam protozoa sebagai tumbuhan karena tidak bergerak ketika kami amati dibawah mikroskop.
Pengamatan kelima kami lakukan pada jamur tempe dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 x 10. Hasil pengamatan bahwa jamur tempe berbentuk koloni yang banyak dengan bentuk melingkar tak rata. Tubuhnya berspora dan talus. Pada jamur tempe ini terdapat hifa-hifa yang memisahkan bagian-bagiannya. Hifa ada yang berfungsi sebagai pembentuk alat reproduksi.Misalnya, hifa yang tumbuh menjulang ke atas menjadi sporangiofor yang artinya pembawa sporangium.sporangium artinya kotak spora.Didalam sporangium terisi spora.Ada pula hifa yang tumbuh menjadi konidiofor yang artinya pembawa konidia, yang dapat menghasilkan konidium.













BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Perbedaan pada protista kelompok protozoa dan algae kami lakukan berdasarkan gerakan, bentuk, habitat hidup dan cara memperoleh makanan. Berdasarkan praktikum ini protozoa berbentuk bazil,melingkar garis garis, sedangkan algae bercabang. Habitat hidup protozoa kami temukan pad air jerami, laut, dan rawa. Algae kami temukan pada air kolam. Protozoa sebagian melakukan gerak aktif , sedang pada algae tidak.
Praktikum ini kami membandingkan antar protozoa. Perbandingan tersebut kami lakukan atas dasar habitat hidup, gerak , bentuk dan warna. Habitat hidup kami temukan pada air rendaman jerami, rawa dan laut. Warna pada protozoa yang berhasil kami amati adalah coklat. Sebagian protozoa bergerak aktif di bawah mikroskop pengamatan.
Protozoa dibagi menjadi dua yaitu prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen. Protozoa sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof dan bergerak pasif. Ada yang bisa berubah-ubah.  Berdasarkan pengamatan yang kami amati protozoa yang ditemukan mayoritas adalah protozoa sebagai tumbuhan.
Pengamatan pada fungi atau jamur tempe kami menemukan spora yang berhifa yang menyekat tiap-tiap bagiannya. Hal ini membuktikan bahwa jamur tempe merupakan salah satu jamur multi sel. Koloni yang kami temukan berbentuk melingkar dan banyak hal ini membuktikan bahwa jamur tempe termasuk dalam jamur multi sel.



5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk Praktikan diharapkan lebih teliti dan cermat dalam melakukan segala bentuk praktikum. Selain itu Praktikan diharapkan utuk belajar seputar percobaan sebelum melakukan percobaan ini. Yang terakhir Praktikan diharapkan agar selalu semangat dalam menghadapi kesulitan–kesulitan yang ada saat praktikum





DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Fungi.http://www.wikipedia.com/fungi.html  diakses 01-05-2014
Coyne, Mark S. 1999. Soil Microbiology: An Exploratory Approach. USA : Delmar Publisher
Jati, Wijaya, 2007. Aktif Biologi Pelajaran Biologi untuk SMA/MA Kelas.Jakarta: Ganeca
Pelczar, Michael J. 1999. Microbiology. USA : Mc Graw Hill
Purnomo,Bambang.2008. Materi Kuliah Mikrobiologi. Faperta Unib: Bengku
Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Erlangga :Jakarta.

rakhmat stw/mikrobiologi/unib/kultivasi dan isolasi



LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

                                                                                          

Nama                               : RAHMAD SETIAWAN
 NPM                                         :
Judul / Tgl Praktikum      : Kultivasi dan Isolasi/
Nama Pembimbing                    :  Sempurna Ginting, S.P.,M.Si
Nama Pelatih ( Coass)     : Redi Agustri



LABORATORIUM ILMU HAMA PENYAKIT TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Mikro organisme dapat di jumpai di mana saja sebab mikro organisme sangat banyak jenisnya dan habitat hidupnya bermacam-macam. Dalam suatu kawasan yang kecil di mungkinkan hidup berbagai mikro organisme dengan jumlah yang banyak. Dunia mikro biologi tentu tidak terlepas dari mikro organisme sebab dalam mikro biologi seluruh aktifitas didalamnya berhubungan dan mengunakan mikro organisme. Dengan demikian perlu pembelajaran yang lebih mendalam untuk mengetahi bagaimana kehidupan suatu mikro organisme di alam ini.
Salah satu cara untuk mempelajari suatu mikro organisme terlebih dahulu kita harus melakukan kultivasi dan isolasi pada mikro organisme tersebut supaya dalam suatu penelitian yang kita lakukan akan fokus terhadap suatu spesies. Suatu pengamatan terhadap mikro organisme tidak dapat kita lakukan dalam suatu kawasan tertentu. Suatu kawasan yang sepit bukan berarti hanya sedikit mikro organisme yang hidup di dalamnya, namun dalam kawasan tersebut hidup berribu milyar mikro organisme.
Isolasi dan kultivasi mikroba ini adalah untuk memelihara suatu mikroorganisme yaitu bakteri, jamur, dan khamir dari mediayang ada serta membedakan bahwa setiap mikroorganisme memiliki peranan yang berbeda dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Setiaps el tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitaskehidupan dan tidak memerlukan tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan yang dilakukan dalam percobaan ini, dan tingkat pembiakannya relatif cepat saat inkubasi.

1.2  Tujuan

a.       Melihat macam-macam koloni mikroorganisme yang bersal dari tanah dengan variasi kepekatan tanah
b.      Memberikan keterampilan kepada mahasiswa, agar mampu menumbuhkan dan memisahkan bakteri atau jamur dari keberadaanya di dalam tanah



BAB II
DASAR TEORI

Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah,menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindarikontaminasi pada media. Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yangtidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan mediasederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satumedia yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air,sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel padauji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni dengan caradisterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit (Fathir, 2009).
Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannyadalam suatu medium buatan. Proses pemisahan atau pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasimikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macammikroorganisme saja. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikrobadengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal inidapat dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akanmembentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Supardi, 1998).
Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu dengan cara goresan (streak plate), cara tuang (pour plate), cara sebar (spread plate), dan mikromanipulator. Jika sel-sel tersebut tertangkap oleh media padat pada beberapa tempat yang terpisah,maka setiap sel atau kumpulan sel yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloniyang terpisah, sehingga memudahkan pemisahan selanjutnya ( Buckle,1998).
Pengamatan bakteri itu dapat kita lakukan secara individual, satu per satu,maupun secara kelompok dalam bentuk koloni. Besar kecilnya koloni, mengkilattidaknya, halus kasarnya permukaan, dan warna koloni merupakan sifat-sifat yangdiperlukan dalam menentukan identifikasi spesies. Warna bakteri baru tampak jelas, jika bakteri itu diamati dalam kelompok. Kebanyakan bakteri mempunyai warna yang keputih-putihan, kelabu, kekuning-kuningan, atau hampir bening, akan tetapi ada juga beberapa spesies yang mempunyai pigmen warna yang lebih tegas. Adanya warna itudipengaruhi juga oleh factor-faktor luar seperti temperatur, pH, oksigen bebas. Ada beberapa spesies yang memerlukan fosfat, ada spesies memerlukan sulfat gunamenimbulkan pigmentasi. Pada umumnya pigmen itu menetap di dalam sel selama bakteri itu hidup; pigmen hijau pada Pseudomonas dapat larut dalam air serta meresapke dalam medium yang ditumbuhinya, setelah sel mati (Dwidjoseputro, 1994)
Persyaratan utama bagi isolasi dan kultivasi fage adalah harus adanya kondisi optimum untuk pertumbuhan organisme inangnya. Sumber bakteriofage yang paling baik dan paling utama adalah habitat inang. Sebagai contoh fage koli yang dijumpai di dalam pencernaan dapat diisolasi dari limbah atau pupuk kandang. Hal ini dilakukan dengan sentifugasi atau filtrasi bahan sumbernya dan penambahan kloroform untuk membunuh sel-sel bakterinya (Adams, 2000).
Metode isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari organisme lainnya. Setiapkoloni yang terpisah yang tam pak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satusel tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu Metodegores kuadran, dan metode agar cawantuang. Metode gores kuadran. Bila metode ini dilakukan dengan baik akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiapkoloni berasal dari satu sel (Pelczar, 1986).












BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan


Alat
Waterbath, cawan petri, gelas ukur, gelas Erlenmeyer, tabung reaksi, batang pengaduk, lampu spritus, entcase, stopwatch, timbangan, ruang inkubasi.

Bahan
Medium kultur (PDA dan JSA), + NaCl 50% + Na­­2CO3 10%, Asam asetat 1%, alcohol, aquades, tanah kompos.




3.2   Prosedur Kerja
1.      Memanaskan medium kultur (PDA dan JSA) di dalam waterbath sampai mencair.
2.      Menimbang tanah seberat 10 gram pada gelas arloji atau aluminium foil, kemudian memasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer 200 mL steril.
3.      menambah air steril tanah sampai menjadi 100 mL dan dikocok sampai homogen, sehingga diperoleh suspensi tanah berkonsentrasi 10-1.
4.      menyiapkan 5 tabung reaksi steril masing-masing diisi 9 mL aquades steril.
5.      Memipet suspensi 10-1 sebanyak 1 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi 1 yang telah berisi 9 mL air steril kemudian mengocok sampai homogen, untuk mendapatkan pengenceran 10-2.
6.      Memipet suspensi 10-2 sebanyak 1 mL kemudian memasukkan ke dalam tabung reaksi 2 yang telah berisi 9 mL air steril kemudian dikocok sampai homogen, untuk mendapatkan pengenceran 10-3.
7.      Melakukan hal yang sama dilakukan pada tabung 3,4 dan 5 untuk mendapatkan pengenceran 10-4, 10-5, dan 10-6.
8.      menyiapkan 4 cawan petri steril.
9.      Menuangkan suspensi pada dua cawan petri steril masing-masing 250 µL 50% dan 125 µL Na­­2CO3 10% untuk menghambat jamur tanah.
10.  Menuangkan medium NA yang sedang mencair,kedalam kedua cawan petri yang sudah diisi NaCl dan Na­­2CO3 masing-masing sebanyak 12,5 mL. langkah ini dilakukan diatas nyala lampu spritus, di dalam entcase atau laminer air flow.
11.  Meuangi dua cawan lainnya masing-masing 250 µL asam asetat 1% kemudian diisi  dengan PDA masing-masing sebanyak 12,5 mL.
12.  Setelah medium membeku, masing-masing medium dalam cawan petri ditetesi 100 µL suspensi tanah dari pengenceran yang berbeda-beda, yaitu 10-3, dan 10-6, kemudian diratakan dengan menggunakan tabung gelas bentuk L. Langkah  ini juga dilakukan diatas nyala lampu spritus, di dalam entcase atau laminar air flow.
13.  Cawan-cawan petri diberi label, kemudian diinkubasi dalam suhu kamar dalam keadaan tertutup dan terbungkus.
14.  Setelah 2 hari, mengamati kenampakan koloni, bentuk koloni, berapa jumlahnya, dan gambar skemais.
15.  Membandingkan hasil dari dua medium berbeda tersebut dari segi jumlah dan variasi mikroorganisme yang tumbuh.
16.  Memisahkan salah satu koloni  yang dikehendaki dimurnikan ke dalam medium lain yang steril.
17.  Setelah 3 hari melakukan pengamatan pada biakan.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan
Jamur PDA
Umur               : 2 hari
 Jumlah Koloni : 3 koloni
Ciri ciri koloni yang terkultivasi        :
1.   Penyebaran koloninya menyeluruh pada petridish.
2. Warnanya putih dan ditengahnya berwarna kecoklatan
3. Bentuk koloninya bervariasi, ada yang besar dan kecil sedang Terkontaminasi oleh jamur






4.2 Pembahasan

            Praktikum ini mempelajari pertumbuhan dan perkembangbiakan suatu mikro organisme yang berasal dari tanah. Proses pertama di mulai dari penyiapan medium pembiakan berupa PDA. Selanjutnya pengenceran pada PDA padat agar sesuai dengan syarat tumbuh suatu mikro organisme yang ingin kita biakan. Cara kultivasi dan isolasi yang kami gunakan adalah metode sebar dan metode tuang. Motode sebar dilakukan dengan PDA yang di cairkan kemudian di tuang dalam petridist dan kita tunggu hingga medium tersebut beku kemudian baru kita masukan mikro organisme. Metode tuang kami lakukan setelah medium kami masukan dalam petridist kami tunggu hingga hangat kuku, agar sesuai syarat tumbuh suatu mikro organisme.
            Tahap setelah seluruh prosedur telah selesai adalah kita masukan percobaan kedalam tempat yang steril agar mikro organisme dapat tumbuh dengan baik, setelah 1 hari kita amati. Pada pengamatan hari pertama mikro organisme masih terlalu kecil dan belum jelas untuk kita lakukan isolasi untuk tahap selanjutnya. Pengamatan kami di hari kedua kami dapati telah terbentuk koloni- koloni mikro organisme yang siap untuk di isolasikan pada tahap selanjutnya. Berdasarkan pengamatan kami bahwa dalam petridist kami terjadi kontaminasi yang cukup tinggi dari luar sehingga pada tepi pegamatan kami berwarna hitam dan menyebabkan pertumbuhan mikro organisme kami berjalan lambat. Berdasarkan dua metode yang kami gunakan, pada metode sebar hasil yang kami dapatkan sangat buruk sehingga tidak ada mikro organisme yang tumbuh. Hal tersebut di sebabkan karena adanya kontaminasi serta kurang sterilnya saat kami melakukan kultivasi.
            Pengamatan kami setelah satu hari melakuakan isolasi belum ada peningkatan koloni koloni pada mikro organisme yang kami isolasi. Pada hari pertama organisme belum tumbuh di sebabkan kontaminasi lingkungan serta pengaruh media kultur yang kurang sesuai dengan keadaan asli habitat tumbuh mikro organisme. Pada hari kedua pengamatan yang kami lakukan kami dapati 3 koloni mikro organisme yang tumbuh. Bentuknya ada yang besar dan kecil, warna organisme yang kami amati adalah putih dengan kecoklat coklatan pada tengah tiap koloni dalam mikro organisme tersebut. Warna sebenarnya mikro organisme tersebut adalah putih, kemudian di karenakan adanya kontaminasi terhadap lingkungan maka terjadi warna coklat pada koloni tersebut.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Dengan melaksanakan praktikum acara kultivasi dan isolasi mahasiswa kini mengetahui mikro organisme dari tanah. Peninjauan mikro organisme berdasarkan kepekatan tanahnya. Berdasarkan hasil praktikum terdapat banyak koloni-koloni mikro organisme yang menghuni tanah. Warna mikro organisme yang hidup di tanah bervariasi, begitu juga dengan ukuran koloninya.
Berdasarkan praktikum acara V, pengamatan dari mokro organisme yang berasal dari tanah sangat bervaria sangat bervariasi. Sehingga dalam melakukan kultivasi dan isolasi memerlukan ketrampilan dan latihan. Isolasi pada mikro organisme di lakukan oleh praktikan pada metode tuang mengunakan koloni mikro organisme yang tumbuh terpisah pada medium, dengan tujuan lebih mudah dalam pengambilan mikro organismenya.


5.2 Saran

Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk Praktikan diharapkan lebih teliti dan cermat dalam melakukan segala bentuk praktikum. Selain itu Praktikan diharapkan utuk belajar seputar percobaan sebelum melakukan percobaan ini. Yang terakhir Praktikan diharapkan agar selalu semangat dalam menghadapi kesulitan–kesulitan yang ada saat praktikum










DAFTAR PUSTAKA

Adams MR, Moss MO. 2000. Food Microbiology  Ed ke-3. Cambridge: RSC Pub.Jakarta
Buckle, K.A. E. R. Ammprey, F. G. Hoste, & W. Milles. 1998. Ilmu Pangan. UI   Press:Jakarta.
Dwidjoseputro D. 1995. Dasar-Dasar Mikrobiologi  Ed ke-2. Djambatan:Jakarta.
Fathir, Fuad. 2009. Media Pertumbuhan Mikroba .http://fuadfathir.multiply.com/journal/ item/2. 24 April 2014
Pelczar MJ, Chan ECS. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi  Ed ke-1. Gramedia:Jakarta.
Supardi I, Sukamto. 1998. Mikrobiologi dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. PT Gramedia Pustaka Utama:Jakarta